This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 05 Februari 2021

RESUME KAJIAN DOSA-DOSA BESAR

- Sebesar apapun orang-orang menghalangi dakwah, Allah telah berjanji dalam firman-Nya:
"Dia-lah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa kebenaran untuk memenangkan agama-Nya yaitu islam di atas seluruh agama."

- Kemenangan itu mutlak Allah telah berikan. Hanya saja kita tidak tahu.

- Kesuksesan yang sejati adalah saat kita bisa berdakwah dan kita amalkan apa yang kita dakwahi.

- Tugas kita hanya menyampaikan dakwah bukan meminta orang yang kita dakwahi itu mengikuti saran kita.

- Orang yang ikhlas tidak down dan tetap tenang bila orang yang kita dakwahi menolak dakwah kita.

- Orang yang hebat adalah mereka yang berdakwah untuk melaksanakan perintah Allah.

JIKA DITOLAK DAKWAHNYA       => TIDAK KECEWA

JIKA DITERIMA DAKWAHNYA     => BONUS DARI ALLAH

- Perkataan SEANDAINYA => Dalam rangka menyesali itu HARAM namun dalam rangka bersyukur BOLEH

- Seorang hamba yang mati dalam kondisi islam dan tidak membawa dosa besar. Janji Allah akan mengampuni dosanya. Seperti dalam Q.S An-Nisa: 31 
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Kamis, 14 Januari 2021

Bahagia dengan Jatuh Cinta

Pernahkah saat hatimu terluka dengan ucapan seseorang, lalu bertemu dengan orang yang kau cinta. Tiba-tiba luka itu seolah tak terasa?
Pernahkah saat tubuhmu lelah seharian bekerja, lalu bertemu sang pujaan. Tiba-tiba lelah itu hilang seketika?

Aku mencurigai hatiku sendiri. Bagaimana bisa hal itu terjadi?
Seolah tatapan teduh matanya memintaku berdamai dengan keadaan.
Tak perlu berlarut dalam kesedihan. 

Takdir mempertemukanku dengannya.
Seseorang yang mengenalkanku dengan kata 'jatuh cinta'.

Cibarusah, 15 Januari 2021

Rabu, 02 Desember 2020

TENTANG BERSYUKUR

 “Yah, hujan!”

“Mana becek banget lagi.”

“Huh! Panas banget.”

 “Ini matahari ada tiga kali ya!”

Pernah nggak kamu mengucapkan kalimat itu? Sadar atau tidak mungkin sesekali sempat berucap. Aku sendiri pernah. Rupanya aku masih sering mengeluh dengan keadaan hidup yang sedang dijalani. Seringkali aku bertanya pada diriku, keluh kesah yang senantiasa terucap, adakah terbesit dalam pikiranmu bahwa Allah tak menyukai hal itu? Duhai diri, adakah sadar muncul dalam hatimu kala mengumpat apa yang Allah beri?

Saat langit mendung dan kemudian hujan turun. Lisan pernah berucap: Kenapa hujan sih kan aku mau berangkat sekolah? Padahal aku sedang ada di dalam rumah. Yang mana, aku bisa segera mencari jas hujan atau sabar menuggu reda. Bila diingat, malu rasanya. Bagaimana kelak aku bertanggungjawab atas kalimat itu di hadapan Allah?

Dalam keadaan seperti itu aku masih saja mengeluh. Meskipun sesekali terlintas dalam benak dan pikiranku. Pada mereka yang kedinginan lantaran tidak membawa jas hujan. Pada mereka yang sedang berjualan di tepi jalan atau pada mereka yang tidur beralaskan tanah dan beratap langit.

Ketika musim panas, suhu udara amat tinggi. Saat itu, aku sedang berada di pusat perbelanjaan modern yang difasilitasi air conditioner (AC). Selepas berbelanja, aku keluar menuju parkiran. Dan lagi, aku mengeluh dengan panasnya hari itu. Padahal seharusnya aku bersyukur karena dengan cuaca cerah ini jemuranku yang di rumah bisa segera mengering. 

Ya Rabb, banyak sekali keluhan yang kuucap. Maafkan diri ini, Ya Ghofur.

Sekarang aku mengubah pola pikirku. Siang yang panas menyengat adalah rezeki bagi orang lain. Pun sebaliknya, derasnya hujan pun adalah rezeki bagi siapapun.

Ya Rabb, maafkan diri yang tak memahami tanda-tanda kebesaran-Mu. Lisan yang lebih sering terlontar kalimat ‘Andai’. Ternyata membuka pintu setan masuk ke dalamnya. 

Mungkin Belum Waktunya

Akhirnya aku berpikir demikian...

Setelah beberapa kali rasa insecure seringkali mampir. Hadir ketika melihat postingan teman-teman yang bagiku sudah sukses. Dan itu terjadi berulang kali. Rasa percaya diri seketika memudar, bercermin pun seolah hanya sekadar saja. Menatap lalu berkata: Aku kapan seperti mereka?

Bukan main rasanya bagaimana berkali-kali aku berusaha memunculkan rasa percaya yang besar. Kembali tegar ketika pikiran mulai larut dengan kata-kata yang tak semestinya ku ucapkan. Belum lagi sugesti negatif yang jua ikut menyapa.

Wajarkah perasaan itu muncul? 
Rasa iri (Naudzubillahi min dzalik semoga tak lagi bersemayam di diri ini).

Sepertinya memang hijrah sesungguhnya mesti melalui hati dulu.
Aku terlalu sibuk membenahi penampilan dan lupa membersihkan hati huhuhu.
Sibuk membedaki raga, tapi lupa memberi nutrisi pada jiwa.

Sampai akhirnya aku berpikir,
"Kok ya bisa-bisanya aku sibuk memikirkan orang lain?"

Duhai diri, ternyata hatimu tak sebening embun pagi. Disana masih ada noktah hitam yang menyelimuti.

Dan ah iya...
Aku teringat dengan kata-kata mashyur Ali bin Abi Thalib ra.,"Aku tak sebaik yang kau pikirkan, namun aku tak seburuk yang ada di pikiranmu."
Orang melihatku baik, padahal itu karena Allah yang Maha Baik menutup aibku


Qadarullah, Allah menyadarkanku dengan postingan seseorang (mohon maaf lupa nama pemostingnya). Kurang lebih beliau menuliskan bahwa kehidupan dunia maya sebetulnya tak benar-benar adanya. Kita tidak bisa menghentikan aktivitas selancar mereka di dunia maya, terlebih instagram. Tapiii..., kita bisa banget memfilter semua itu. 

Filter.. iya 'menyaring' hehe.

Selama ini aku menumpuk semua kejadian di satu tempat: pikiran. Yang Qadarullah berefek ke fisik. Sakit yang menyapa diri, menyadarkanku bahwa setiap orang punya rezekinya masing-masing. Lewat kejadian itu, aku belajar untuk menahan diri dari nafsu duniawi, aku belajar untuk tak iri dengan rezeki orang lain, aku belajar untuk menerima apa yang Allah beri.

Ridho bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini sudah menjadi skenario terbaik untukku.
Memang pada awalnya aku tak menerima, tapi lambat laun Al-Latif dengan ke-Maha Lembutannya menyentuhku dengan firman-Nya; "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui."

Kesalahanku adalah mengukur kesuksesan dengan tolok ukur duniawi.
Padahal, orang-orang yang berhasil dalam akhiratnya itu justru sangat menginspirasi.
Ya, mereka yang sukses membenahi hatinya dengan terus berdzikir mengingat Allah. yang jika bersedekah tak menghitung nominal, bahkan yang salat malamnya tak pernah tertinggal.

Akhirnya aku berpikir demikian.








Kamis, 17 September 2020

YOUR PRIORITY

Dulu aku berpikir bahwa bahagia adalah milik mereka yang bisa membahagiakan orang lain. Iya, itu benar. Namun setelah ku jalani, benar namun belum tepat. Ada yang semestinya dibahagiakan terlebih dahulu sebelum orang lain. Ada yang berhak merasa bahagia. Membahagiakan orang lain memang sebuah kebaikan. Tapi, membahagiakan diri sendiri adalah prioritas.

Lho, kok bisa?

Iya.

Karena kadang beberapa orang yang memiliki rasa nggak enakan itu seringkali tertekan :(

Kebaikan hatinya seringkali dimanfaatkan.

Iya. Dia bahagia. Tapi, perasaannya seringkali bertentangan dengan ucapan.
Rasa ingin menolak. Tapi, timbul rasa tak enak.

Diri kita butuh dibahagiakan. Tidak mengiyakan permintaan orang lain bukan sebuah penghinaan.

Yuk, diriku pun sedang berbenah diri. Aku mulai menata hal-hal yang baik untukku dan juga orang lain. Aku pun merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia. Namun, menyayangi diri tak semestinya dengan sesuatu yang menguras energi tubuhmu. Bahagia adalah milik mereka yang bisa menerima dirinya apa adanya. Tak perlu risau dengan omongan orang lain tentangmu. Bahagia itu tetap milikmu.

Bismillah, be a grateful woman.
Kamu bisa membahagiakan orang lain, jika dirimu lebih dulu bahagia.

Senin, 03 Agustus 2020

PUISI BAHASA SUNDA: KAENDAHAN ALAM

“KAENDAHAN ALAM”

                                                         

 

Gunung ngajungkiring luhur...

Tangkal kalapa ngagupayan…

Kawas bade naros ka abdi…

Di langit sonten anu mimiti poek…

                    Abdi jempe sorangan…

                    Neuteup ombak anu ngagulung-gulung…

                    Kawas nuju ka sisi basisir…

                    Kalawan desiranna anu kitu halimpu…

Sareng reyem-reyemna panon poe…

Di rohang jomantara awan ngadigleg…

Kawas kapas nu diawurkeun…

Gumbira pisan ngabageakeun datangna wengi…

                    Sakitu lami ningali alam nu endah…

                    Sakitu lami ngocorna nikmat…

                    Teu kenging mopohokeun kawajiban syukur…

Teu kenging dugi hate deleka…

Alam ieu kitu endah…

Alam ieu kitu mentereng…

Hayu urang ngalindungan…

Supados angger kajaga endahna…


Jumat, 03 April 2020

Sekilas Cerita

PART 1

Aku mengenalmu lewat sebuah kegiatan formal yang sama-sama kita ikuti. Aku mengenal wajahmu tapi tidak dengan namamu. Wajah yang pernah kutemui saat di Bogor pada 2017 lalu. Wajah yang membuat hatiku berkata, kamu berbeda dengan laki-laki yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Allah takdirkan kita bertemu dalam sebuah kegiatan yang membuat wajah dan namamu kini semakin ku kenal.

Benakku berbicara agar kita tak perlu bersua terlalu rutin saat itu. Hatiku menolak, berharap kita tak perlu berbicara lebih jauh. Tapi, Allah berkehendak lain. DIA menakdirkanmu membersamaiku beberapa bulan saat itu. Hatiku cemas sebab menganggap bahwa kita tak satu frekuensi. Pembicaraan-pembicaraan kita pun tentu tak akan terkoneksi. Itu yang ada dalam pikiranku.

Rupanya, Allah menegurku dengan cara ini.

Beberapa bulan berjalan, aku mengenalmu hampir secara utuh. Segala hal buruk tentangmu tak ada yang benar-benar adanya dirimu. Kamu justru laki-laki yang tawadhu. Laki-laki yang cerdas dan tampan yang mana tak sebanding dengan aku.

Kini aku terjebak dengan segala hal tentang dirimu. Meski hanya bisa kuraih dalam angan.
Segala tentangmu yang telah menjelma menjadi satu kenangan.
Terima kasih atas kehadiranmu. Aku banyak belajar untuk tidak menilai seseorang sebelum mengetahui lebih jelas.

Lagi-lagi ku sampaikan.
Hadirmu kini bukan lagi sekadar teman.

:)