Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Jumat, 05 Februari 2021
RESUME KAJIAN DOSA-DOSA BESAR
Kamis, 14 Januari 2021
Bahagia dengan Jatuh Cinta
Rabu, 02 Desember 2020
TENTANG BERSYUKUR
“Yah, hujan!”
“Mana becek banget lagi.”
“Huh! Panas banget.”
“Ini matahari
ada tiga kali ya!”
Pernah nggak kamu mengucapkan kalimat
itu? Sadar atau tidak mungkin sesekali sempat berucap. Aku sendiri pernah. Rupanya aku masih sering mengeluh dengan keadaan hidup yang sedang dijalani. Seringkali aku bertanya pada diriku, keluh kesah yang senantiasa terucap,
adakah terbesit dalam pikiranmu bahwa Allah tak menyukai hal itu? Duhai diri, adakah sadar
muncul dalam hatimu kala mengumpat apa yang Allah beri?
Saat langit mendung dan kemudian hujan turun. Lisan pernah berucap: Kenapa hujan sih kan aku mau berangkat sekolah? Padahal aku sedang ada di dalam rumah. Yang mana, aku bisa segera mencari jas hujan atau sabar menuggu reda. Bila diingat, malu rasanya. Bagaimana kelak aku bertanggungjawab atas kalimat itu di hadapan Allah?
Dalam keadaan seperti
itu aku masih saja mengeluh. Meskipun sesekali terlintas dalam benak dan pikiranku.
Pada mereka yang kedinginan lantaran tidak membawa jas hujan. Pada mereka yang
sedang berjualan di tepi jalan atau pada mereka yang tidur beralaskan tanah dan
beratap langit.
Ketika musim panas, suhu udara amat tinggi. Saat itu, aku sedang berada di pusat perbelanjaan modern yang difasilitasi air conditioner (AC). Selepas berbelanja, aku keluar menuju parkiran. Dan lagi, aku mengeluh dengan panasnya hari itu. Padahal seharusnya aku bersyukur karena dengan cuaca cerah ini jemuranku yang di rumah bisa segera mengering.
Ya Rabb, banyak sekali keluhan yang kuucap. Maafkan diri ini, Ya Ghofur.
Sekarang aku mengubah pola pikirku. Siang yang panas menyengat adalah rezeki bagi orang lain. Pun sebaliknya, derasnya hujan pun adalah rezeki bagi siapapun.
Ya Rabb, maafkan diri yang tak memahami tanda-tanda
kebesaran-Mu. Lisan yang lebih sering terlontar kalimat ‘Andai’. Ternyata membuka
pintu setan masuk ke dalamnya.
Mungkin Belum Waktunya
Kamis, 17 September 2020
YOUR PRIORITY
Senin, 03 Agustus 2020
PUISI BAHASA SUNDA: KAENDAHAN ALAM
“KAENDAHAN ALAM”
Gunung ngajungkiring luhur...
Tangkal kalapa ngagupayan…
Kawas bade naros ka abdi…
Di langit sonten anu mimiti poek…
Abdi jempe sorangan…
Neuteup ombak anu ngagulung-gulung…
Kawas nuju ka sisi basisir…
Kalawan desiranna anu kitu halimpu…
Sareng reyem-reyemna panon poe…
Di rohang jomantara awan ngadigleg…
Kawas kapas nu diawurkeun…
Gumbira pisan ngabageakeun datangna wengi…
Sakitu lami ningali alam nu endah…
Sakitu lami ngocorna nikmat…
Teu kenging mopohokeun kawajiban syukur…
Teu kenging dugi hate deleka…
Alam ieu kitu endah…
Alam ieu kitu mentereng…
Hayu urang ngalindungan…
Supados angger kajaga endahna…
Jumat, 03 April 2020
Sekilas Cerita
Aku mengenalmu lewat sebuah kegiatan formal yang sama-sama kita ikuti. Aku mengenal wajahmu tapi tidak dengan namamu. Wajah yang pernah kutemui saat di Bogor pada 2017 lalu. Wajah yang membuat hatiku berkata, kamu berbeda dengan laki-laki yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Allah takdirkan kita bertemu dalam sebuah kegiatan yang membuat wajah dan namamu kini semakin ku kenal.
Benakku berbicara agar kita tak perlu bersua terlalu rutin saat itu. Hatiku menolak, berharap kita tak perlu berbicara lebih jauh. Tapi, Allah berkehendak lain. DIA menakdirkanmu membersamaiku beberapa bulan saat itu. Hatiku cemas sebab menganggap bahwa kita tak satu frekuensi. Pembicaraan-pembicaraan kita pun tentu tak akan terkoneksi. Itu yang ada dalam pikiranku.
Rupanya, Allah menegurku dengan cara ini.
Beberapa bulan berjalan, aku mengenalmu hampir secara utuh. Segala hal buruk tentangmu tak ada yang benar-benar adanya dirimu. Kamu justru laki-laki yang tawadhu. Laki-laki yang cerdas dan tampan yang mana tak sebanding dengan aku.
Kini aku terjebak dengan segala hal tentang dirimu. Meski hanya bisa kuraih dalam angan.
Segala tentangmu yang telah menjelma menjadi satu kenangan.
Terima kasih atas kehadiranmu. Aku banyak belajar untuk tidak menilai seseorang sebelum mengetahui lebih jelas.
Lagi-lagi ku sampaikan.
Hadirmu kini bukan lagi sekadar teman.
:)










