This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 17 September 2020

YOUR PRIORITY

Dulu aku berpikir bahwa bahagia adalah milik mereka yang bisa membahagiakan orang lain. Iya, itu benar. Namun setelah ku jalani, benar namun belum tepat. Ada yang semestinya dibahagiakan terlebih dahulu sebelum orang lain. Ada yang berhak merasa bahagia. Membahagiakan orang lain memang sebuah kebaikan. Tapi, membahagiakan diri sendiri adalah prioritas.

Lho, kok bisa?

Iya.

Karena kadang beberapa orang yang memiliki rasa nggak enakan itu seringkali tertekan :(

Kebaikan hatinya seringkali dimanfaatkan.

Iya. Dia bahagia. Tapi, perasaannya seringkali bertentangan dengan ucapan.
Rasa ingin menolak. Tapi, timbul rasa tak enak.

Diri kita butuh dibahagiakan. Tidak mengiyakan permintaan orang lain bukan sebuah penghinaan.

Yuk, diriku pun sedang berbenah diri. Aku mulai menata hal-hal yang baik untukku dan juga orang lain. Aku pun merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia. Namun, menyayangi diri tak semestinya dengan sesuatu yang menguras energi tubuhmu. Bahagia adalah milik mereka yang bisa menerima dirinya apa adanya. Tak perlu risau dengan omongan orang lain tentangmu. Bahagia itu tetap milikmu.

Bismillah, be a grateful woman.
Kamu bisa membahagiakan orang lain, jika dirimu lebih dulu bahagia.

Senin, 03 Agustus 2020

PUISI BAHASA SUNDA: KAENDAHAN ALAM

“KAENDAHAN ALAM”

                                                         

 

Gunung ngajungkiring luhur...

Tangkal kalapa ngagupayan…

Kawas bade naros ka abdi…

Di langit sonten anu mimiti poek…

                    Abdi jempe sorangan…

                    Neuteup ombak anu ngagulung-gulung…

                    Kawas nuju ka sisi basisir…

                    Kalawan desiranna anu kitu halimpu…

Sareng reyem-reyemna panon poe…

Di rohang jomantara awan ngadigleg…

Kawas kapas nu diawurkeun…

Gumbira pisan ngabageakeun datangna wengi…

                    Sakitu lami ningali alam nu endah…

                    Sakitu lami ngocorna nikmat…

                    Teu kenging mopohokeun kawajiban syukur…

Teu kenging dugi hate deleka…

Alam ieu kitu endah…

Alam ieu kitu mentereng…

Hayu urang ngalindungan…

Supados angger kajaga endahna…


Jumat, 03 April 2020

Sekilas Cerita

PART 1

Aku mengenalmu lewat sebuah kegiatan formal yang sama-sama kita ikuti. Aku mengenal wajahmu tapi tidak dengan namamu. Wajah yang pernah kutemui saat di Bogor pada 2017 lalu. Wajah yang membuat hatiku berkata, kamu berbeda dengan laki-laki yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Allah takdirkan kita bertemu dalam sebuah kegiatan yang membuat wajah dan namamu kini semakin ku kenal.

Benakku berbicara agar kita tak perlu bersua terlalu rutin saat itu. Hatiku menolak, berharap kita tak perlu berbicara lebih jauh. Tapi, Allah berkehendak lain. DIA menakdirkanmu membersamaiku beberapa bulan saat itu. Hatiku cemas sebab menganggap bahwa kita tak satu frekuensi. Pembicaraan-pembicaraan kita pun tentu tak akan terkoneksi. Itu yang ada dalam pikiranku.

Rupanya, Allah menegurku dengan cara ini.

Beberapa bulan berjalan, aku mengenalmu hampir secara utuh. Segala hal buruk tentangmu tak ada yang benar-benar adanya dirimu. Kamu justru laki-laki yang tawadhu. Laki-laki yang cerdas dan tampan yang mana tak sebanding dengan aku.

Kini aku terjebak dengan segala hal tentang dirimu. Meski hanya bisa kuraih dalam angan.
Segala tentangmu yang telah menjelma menjadi satu kenangan.
Terima kasih atas kehadiranmu. Aku banyak belajar untuk tidak menilai seseorang sebelum mengetahui lebih jelas.

Lagi-lagi ku sampaikan.
Hadirmu kini bukan lagi sekadar teman.

:)



Sabtu, 04 Januari 2020

Tentang Akhlak

Kalau engkau mau buah, tunggu buah itu matang. Jangan petik jika belum matang. Itu tidak berakhlak namanya. Pun jika ada pohon, di sampingnya ada lubang (mohon maaf) jangan buang air kecil disitu. Barangkali ada semut yang sedang musyawarah di dalamnya😁 Hehe. Sederhana sekali perumpamaan tentang akhlak. Ma syaa Allah 😊 

#30haribercerita #30HBC2004

Jumat, 03 Januari 2020

Menetap atau Pindah?

Aku baru aja baca feed instagramnya Mbak Oki Setiana Dewi yang salah satu isinya seperti ini:
Some people can stay in your heart but not in your life.

Aku sangat menyadari hal ini benar adanya. Kita bertemu dengan seseorang, kemudian berkenalan tapi tidak semua akan menetap bersama kita. Teman-teman semasa sekolah, masa kecil, teman kampus. Mereka bergerak mengikuti alur kehidupan mereka masing-masing. Daaannn...., kita tidak bisa memaksakan mereka untuk tetap stay dengan kita.

Aku bersyukur,
Atas orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupanku. Kedatangan mereka bermacam-macam. Ya, bermacam-macam. Kenapa?

Karena dari mereka ada yang datang bak seorang guru yang memberikan pelajaran, ada yang menawarkan menjadi teman dan ada pula yang berhasil memenangkan hati. Aku tidak menyesali keberadaan mereka. Pernah ada yang menasihati di kala ramai. Alhamdulillah..., aku mampu menerimanya. Padahal Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah berkata: 
“Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia. Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77).  sumber: 
https://shahihfiqih.com/mutiara-salaf/nasehat-dan-adab-menyampaikannya/
So, i just smile when she speaks about my mistakes. 

Melemparkan dengan senyuman. Bukan berarti meremehkan. Hanya berusaha menghindar dari perdebatan dan berkaca diri bahwa boleh jadi ada sesuatu dalam diri yang harus dibenahi.

Aku pun bersyukur. 
Dipertemukan dengan mereka yang menawarkan diri sebagai teman. Menjadi tempat berbagi saat senang maupun sedih. Menjadi ruang bercerita. Teman berfoto ria. Teman seperjalanan. Alhamdulillah, Allah menghadirkan mereka dalam kehidupan. Membersamai saat kekalahanku dalam suatu tujuan. Menyemangati ketika mulai ringkih. I wish you are always in a goodness, Guys.

Aku pun tak lupa beryukur. 
Pada mereka yang mampu memenangkan hati. Terimakasih, sempat menghadirkan diri dalam kehidupan. Membuat senyum di wajah selalu mengembang. Barangkali memang belum jalannya. Ada banyak hal yang sama-sama harus kita raih. Ada sesuatu yang lebih prioritas. Atau barangkali, perbedaan frekuensi yang mengharuskan cerita itu usai. Melalui ini aku belajar, untuk tidak buru-buru menghadirkan hati untuk hal itu. Selamat berlayar kembali. Hingga dirimu benar-benar mantap berlabuh pada satu tujuan.

It is real.
Beberapa orang bisa menetap dalam hatimu, tapi tidak di hidupmu.

#30haribercerita #30HBC2003

Rabu, 01 Januari 2020

Kekuatan Keyakinan

Ada banyak cara Allah mengundang hamba-Nya ke suatu tempat yang di inginkan. ⁣⁣
⁣⁣
Saya seringkali melihat Masjid Istiqlal ketika siaran solat idul fitri maupun solat Jum'at di TVRI. Ya, hanya di televisi. Saya selalu berdecak kagum melihat masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Hanya bergumam dalam hati, "Semoga suatu hari saya bisa kesana."

Hampir tiap kali siaran solat Jum'at di TVRI tak terlewatkan untuk saya saksikan. "Kapan saya bisa menjejakkan kaki di sana?" Kalimat itu yang selalu terucap di bibir. ⁣⁣

Minggu ketiga di bulan Februari saya mendapatkan informasi Tabligh Akbar di Masjid Istiqlal. Keinginan yang sudah menggebu-gebu tak bisa lagi tertahan. "Saya harus berangkat." tekad saya dalam hati. Screenshot info tersebut sudah saya send ke teman dekat. Berharap dia juga ingin ikut.⁣⁣
⁣⁣
Saya menunggu kabar sekitar lima belas menit.⁣⁣
⁣⁣
Qadarullah, setelah saya memberikan kabar itu. Dia sekeluarga justru mengajak berangkat kesana dengan menggunakan mobil pribadi. Ya Allah, malam itu saya sangat bahagia. Impian saya menghadirkan diri di sana segera terwujud.⁣⁣

Jam 6 pagi saya berangkat. Berbekal nasi bungkus yang juga sudah saya siapkan selepas subuh. Pun izin orangtua yang tidak saya lewatkan. Mereka yang paling tahu salah satu keinginan saya. Sebab beberapa kali ketika melihat Masjid Istiqlal di televisi, saya selalu bilang ke mereka, "Saya ingin sekali ke sana."

Sekitar pukul 08.00 saya sampai di sana.
⁣⁣
Tempat parkir yang penuh membuat mobil teman saya harus terparkir cukup jauh dari masjid. Kami harus berjalan lagi sekitar lima belas menit. Memang ini bukan pertama kalinya saya datang ke Jakarta. Tapi, saya selalu punya daya tarik sendiri dengan tata kota ini. Di tengah jalan -saking ingin cepat sampainya- saya malah kesandung pembatas jalan (efek mata meleng hehe). Alhasil, tawa renyah pun keluar dari teman saya. 

Dan setelah berjalan lima belas menit. Taraaaa. Alhamdulillah. Ma syaa Allah. Impian saya terwujud di depan mata. 


Note: ini picture via google 

Ada banyak cara Allah mengundang hamba-Nya ke suatu tempat yang di inginkan. Bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepersenpun. Tanpa bingung harus menggunakan transportasi apa. Hanya duduk manis dan sepanjang jalan cuma meringis dalam hati. "Ya Allah, betapa kecil diri ini. Betapa lemah diri ini. Engkau Maha Besar. Engkau Maha Baik."⁣⁣
⁣⁣
Sejak saat itu saya percaya dengan kekuatan keyakinan, pikiran dan doa. Dengan kita membicarakan sebuah keinginan pun sudah bisa menjadi doa. ⁣⁣
⁣⁣
Saya memasuki lorong-lorong di Masjid Istiqlal. Saya berasa mimpi. Masjid yang sejak dulu hanya bisa saya nikmati keindahannya lewat pembicaraan banyak orang. Masjid yang sejak dulu hanya bisa saya nikmati kemegahannya lewat siaran televisi. Kini keindahannya, kemegahannya hadir di depan mata saya. ⁣⁣
⁣⁣
Ma syaa Allah. Rumah-Mu begitu indah dan megah. ⁣⁣
⁣⁣
Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya jika kita yakin.⁣⁣

Allah selalu punya cara mengundang hamba-Nya ke suatu tempat yang diinginkan.

Kita hanya perlu percaya. 

Laa haula walaa quwwata illaa billah

Ya Allah, Ya Kabir, terimakasih. 

#30haribercerita #30HBC2001

Rabu, 10 Juli 2019

Sahabat


Sahabat

Sahabatku, sejenak rehatlah dari penat-penat menjerat,
dengarkan pelukan rindu nan menggebu seru,
sementara mengajak semesta mengeja kata, menguntai do’a.

             Seseorang dianggap sahabat biasanya karena memiliki keakraban berbeda dengan yang lain. Boleh jadi sudah merajut pertemanan dalam kurun waktu cukup lama. Sehingga tercipta sebuah hubungan dan kemudian dinamakan persahabatan. Setelah orangtua, dengan sahabatlah kita sering menghabiskan waktu liburan.
         Sahabat ibarat rumah kedua, bersedia mendengarkan cerita bagi kita yang baru tiba dari perantauan. Adanya kedekatan inilah seseorang dapat mengenal satu sama lain. Mengetahui benar bagaimana tingkah laku dan sifat sahabatnya. Sehingga komunikasi ini dapat membantu seseorang menjadi orang yang lebih baik. Sebab selain dituntut menjaga keburukan sesama. Kita pun belajar menciptakan ukhuwah dalam persahabatan.
          Seperti halnya jalinan rumah tangga, seseorang membutuhkan kepercayaan dan dipercaya. Bagaimana hubungan dapat berjalan lama tetapi sekadar titik percaya pun tidak timbul? Ibarat ada orang menginginkan fondasi rumah yang kuat. Tetapi, Ia hanya membangunnya dari bilah bambu dan kayu.
            Jika kita merindukan sahabat, apa yang akan kita lakukan? Merencanakan pertemuan? Atau terbenam mengingat memori lampau? Merindukan masa kecil bukan perkara biasa. Sebab semakin usia menumbuh amanah tidak kian menjauh. Ia mendekat rekat, bukan sekadar ucapan melainkan perlu tindakan.
            Mari mendefinisikan apa itu sahabat,
            lewat peristiwa yang melekat erat dalam benak, 
      ketika diri kita diliputi kegundahan menginginkan persaudaraan yang sehat,           
      persahabatan yang berada dalam keridoan-Nya.
            Sepenggal kisah mengenai esensi rindu pada perputaran waktu. Bagi kita yang sejak kecil sudah dibina dalam lingkungan agamais pasti begitu merindukan suasana religi di ruangan kecil nan mulia. Tempat mengkaji ilmu agama. Tempat menuai berkah dari para ustaz dan ustazah. Menghafal hadis dan ayat-ayat pada juz amma.
            Menggali akidah, menjadi pengharapan supaya kita menjadi manusia berakhlak. Mempelajari fiqih, menjadi asa mengejar ketertinggalan pada hal-hal kecil yang biasa disepelekan. Baik tentang berhadas besar maupun kecil.
            Mendengarkan sirah nabawiyah, mengajak tenggelam pada situasi ketika para guru menyampaikan cerita para nabi dan rasul-Nya. “Anak-anak, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki empat orang sahabat yang selalu mendukung dakwah beliau hingga akhir hayatnya. Sosok pertama, sahabat yang tidak lelah berkata benar. Sahabat Nabi saw ini terkenal dengan kejujuran dan sifatnya yang bijaksana. Beliau juga salah seorang pedagang yang adil. Siapakah dia? Dia adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahu anhu.
            Sahabat yang kedua adalah sosok pemberani dan tegas. Ia pernah mendatangi rumah penduduk demi melihat keadaan rakyat yang sebenarnya. Ia rela memikul gandum untuk rakyat miskin. Siapakah dia? Dia adalah Umar Bin Khattab radiallahu anhu.
            Berlanjut pada sahabat Nabi saw yang ketiga, ialah sosok yang terkenal dengan kedermawanannya. Harta kekayaan beliau banyak namun dilimpahkan untuk kemaslahatan umat Islam, beliau adalah Utsman bin Affan radiallahu anhu. Dan sosok yang terakhir adalah seorang pemuda yang terkenal dengan kecerdasan dan keluasan ilmu pengetahuannya. Ia adalah sahabat sekaligus menantu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dia? Dia adalah Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu.”
            Salah satu wujud dari persahabatan adalah bentuk kebaikan. Persahabatan adalah Abu Bakar Ash Shiddiq ra., yang rela mendampingi Nabi Muhammad saw dalam suka dan duka. Melindungi beliau dari ejekan dan pembunuhan yang direncanakan oleh kafir Quraisy.       Persahabatan adalah Umar bin Khattab ra., dengan watak keras dan tegasnya menjadi pembela umat islam. Beliau sosok kritikus yang seringkali memprotes kebijakan Nabi Muhammad saw yang dianggap tidak rasional. Beliau mampu membedakan yang hak dan batil. Sehingga Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memberi gelar dengan sebutan Al-Faruk yakni Sang Pembeda.
            Adalah Utsman bin Affan, seorang penderma 20.000 dirham untuk menggali mata air demi kepentingan umat. Kekayaannya diperuntukkan mengembangkan Islam dan mendukung dakwah Nabi saw. Dan persahabatan adalah Ali bin Abi Thalib ra., yang berani mempertaruhkan nyawa demi melancarkan hijrah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbaring di tempat tidur beliau ketika rumah Nabi saw dikepung kafir Quraisy.
            Kita memiliki banyak teman yang tak terhitung dengan jemari. Tetapi, hakikatnya hanya satu atau dua orang yang ada bagaimanapun keadaan kita. Kita mampu mendapati banyak pujian, tetapi sahabat berani melontarkan kritik demi kebaikan.
            Mereka adalah orang yang dipilih-Nya menuntun kita tetap di garis kebajikan. Jangan khawatir! Sahabat bukan soal kuantitas. Kita bisa memilih. Banyak tapi menyesatkan atau satu yang setia mengajak kebaikan?
            “Perumpamaan kawan yang baik adalah seperti orang yang membawa minyak wangi di mana meskipun ia tidak memberi minyak wangi itu kepadamu, niscaya kamu akan mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan perumpamaan kawan yang jahat adalah seperti tukang pandai besi di mana bila ia tidak membakar bajumu maka kamu akan kena asap apinya.” (Abdullah bin Mas’ud ra.)
            Bunga dan kupu-kupu. Keduanya sama-sama mendapati keuntungan. Bunga terbantu dengan kupu-kupu yang hinggap di kelopaknya. Dengan kehadiran kupu-kupu terjadilah proses penyerbukan. Begitu juga dengan kupu-kupu yang beruntung bisa menyerap nektar dari bunga.  Inilah bentuk persahabatan flora dan fauna. Sebuah interaksi yang mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak.
            Jangan sebagai benalu yang diuntungkan karena mendapat air dan mineral dari inangnya. Sehingga sang inang terhambat proses pertumbuhan dan perkembangan sebab hasil serapan akarnya digunakan oleh benalu. Berteman boleh dengan siapa saja. Tetapi  hendaknya kita selektif dan bijak dengan melihat siapa-siapa yang ada sebagai penikmat canda namun hilang ketika duka.
            Ada seseorang yang sudah lama tak ada kabar, tiba-tiba datang karena ia ada butuh. Ada pula yang mengulurkan tangan ketika kita tersungkur jatuh. Sahabat tidak melihat bagaimana rupa, harta dan pangkat. Sahabat hanya memandang, bahwa ada dirinya di mata kita. Meskipun secara raga sudah tak pernah bersua.
            Saat paling bahagia adalah ketika kita menjadi alasan seseorang tersenyum. Orang yang demikian sama halnya pada pohon yang tengah berbuah. Orang-orang senang melihatnya. Ketika kita menjadi prioritas seseorang. Jadilah pendengar yang tenang menangkap curahan hati mereka.
            Sampaikan kabar gembira pada petang,
            meskipun ia datang sekejap,
            tapi detik-detik kemunculannya, ditunggu banyak orang.
            Begitu pula pada ribuan gemintang,
            bergelayutan genit di cakrawala,
            menemani penikmat langit, melepas kerlip-kerlipnya.
            Sekali lagi, persahabatan bisa bertahan bila ada kepercayaan. Percaya menjadi bagian atau perantara memecahkan persoalan. Persahabatan pun tak melulu mulus. Akan ada situasi di mana kesalahpahaman terjadi. Dari situ, diujilah kedewasaan keduanya. Bila egois mendominasi keadaan. Coba keluar walau sekadar meratap langit atau menembus kesunyian di sela-sela lambaian daun.
            Pertengkaran merupakan salah satu ujian persahabatan. Adakah keduanya mampu lulus? Dengan mengalahkan ego-lah, kita memperoleh pelajaran baru dari sebuah universitas kehidupan. Selamat menikmati persahabatan sehat nan taat pada syari’at. Selamat menggapai impian menjadi sahabat sejati dalam hidup seseorang.

                       Yulia Nila Cahya, perempuan kelahiran kota Bahari ini memiliki ketertarikan di dunia kepenulisan sejak awal SMA. "Ku akhiri dengan Move On adalah karya pertamanya yang dikompetisikan dalam lomba bulan bahasa di SMA pada tahun 2012 silam dan berhasil menjadi juara 1. Beberapa kali sempat berkontribusi dalam antologi cerpen dan puisi. Tahun 2015, antologi cerpen pertamanya berjudul Para Pencari Lailatul Qadar sedangkan puisi berjudul Lelaki Tanpa Nama (2016) dan Tamu (2017). Di Balik Diammu, Ayah (2015) menjadi antologi cerpen keduanya. Menyukai bidang astronomi dan apa pun yang berhubungan dengan fonemena alam semesta. Belajar astronomi dianggapnya sebagai wadah mentadabburi kebesaran Allah Ta'ala